Thursday, September 11, 2014

SELAMAT DATANG

KURSUS MEKANIK
NUANSA MOTOR ENGINEERING SCHOOL
Jln. Teuku Umar, Kel. Pasir Putih, Kec. Rimbo Tengah
MUARA BUNGO - JAMBI
Telp. 0747 321715 - hp. 085266010191 - Email. nuansa_motor@ymail.com

Berapa modifikasi motor / mesin balap yang di ambil dari sumber tabloid MOTOR PLUS.
Sabtu, 09 Agustus 2014 19:03 WIB
Honda Blade 2013 (Karawaci)

Modifikasi Honda Blade 2013, Tiket Menuju Senior


Penulis : Belo
Foto : Boyo

Honda Blade andalan tim Kekar GM IRC Oei Racing Team sukses mengantarkan Chikal Faisal sebagai kampiun Region 2 Junior tahun lalu. Di musim balap 2014, besutan racikan Adlan Songa ini kembali dipacu pembalap Junior Febry asal Kalimantan Timur. Ia mencoba menuju jenjang senior dengan setting motor yang andalkan power menegah.
Songa yang awalnya mekanik road race, sudah paham karakter pacuan tanah macam grasstrack. “Untuk balap grasstrack amannya bermain di rentang 4.000 - 5.000 rpm,” bilang tunner yang tinggal dibilangan Ciledug, Tangerang. 
Makanya enggak perlu lagi bermain rasio kompresi mesin terlalu tinggi buat terapkan karakter itu. Cukup di rentang 12,2 : 1 dengan mengandalkan bahan bakar Pertamax Plus. Rasio segitu didapat dari pemakaian piston Izumi diameter 54,5 mm dengan pucuk model jenong. Head silinder dipapas 0,1 mm. 
Untuk ciptakan karakter power di putaran tengah, profil kem diatur ulang. Durasi kem isap atau in dibikin 275°. Sedang kem ex-nya ditata 276°. Kemudian tinggi angkatan klep diseting sejauh 9,5 mm biar bisa menelan asupan gas sebanyak-banyaknya dan memperlancar aliran sisa pembakaran. Profil segitu untuk dorong klep in yang mengusung diameter payung 29 mm dan 23,4 mm (ex).
Guna menciptakan pembakaran sempurna di ruang bakar, pengapian diupgrade. Koil andalkan punya Yamaha YZ125, didukung CDI BRT Super Pro.  Pamungkasnya, saluran gas buang ditukar pakai produk Oei Racing.
Paling sip ramuan gigi rasionya, didapat dari tim balap Honda di ajang road race. “Saya pasang rasio Honda Blade tipe 9. Aslinya buat pacuan road race untuk karakter sirkuit banyak tikungan patahnya. Macam di trek dadakan. Ternyata cocok buat lintasan grastrack,” tutup Songa sembari bilang pakai rasio dari AHM ini enggak pernah ada kendala saat di lintasan. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan : Kenda 90/80-19
Ban belakang : Kenda 100/70-16
Knalpot  : Oei Racing
CDI : BRT Super Pro
Sok depan : Yamaha YZ85


REFERENSI :
www.motorplus-online.com

Kamis, 14 Agustus 2014 17:00 WIB
Suzuki Satria F-150 2012 (Jakarta)

Modifikasi Suzuki Satria F-150 Harlan Fadhilah, Rahasianya Ada di Head!


Penulis : Indra
Foto : Aji, Athaya

Untuk bisa melesat cepat secara konstan, tidak harus dengan power mesin besar. Nih, buktinya! Besutan milik Harlan Fadhilah yang belum lama ini sukes menjuarai kelas psort 150 cc pada IRS seri 2 di sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Sebelumnya, tenaga dapur pacu Suzuki Satria F-150 Harlan ini ketika didyno di atas mesin Dynojet 250i buatan Amrik milik Bintang Racing Team (BRT), berhasil raih power 23,5 hp. Namun, pencapaian segitu justru kerap undang masalah di trek. Ketahanan dan kestabilan mesin suka tergangu.
Dari pengalaman itu, bengkel racing yang bermarkas di Cibinong, Jawa Barat ini coba ramu ulang dapur pacunya. Utak sana, atik sini. Power diturunkan sedikit jadi 22,75 hp, dengan torsi 12,95 Nm/12.000 rpm. “Power gede tidak menjamin bisa menang. Durability dan kestabilan performanya pegang peran penting,” tukas Tomy Huang, bos BRT.
Buktinya, ubahan mesin masih seperti sebelumnya. Rasio kompresi diset 11,8: 1 pakai piston jenong Wiseco untuk Kawasaki Ninja 250 yang diameternya sama kayak Satria F-150 (62 mm). Termasuk, porting saluran masuk dan buang yang diukur flowbanch.
Profil kem pun masih menerapkan durasi 281° di bagian ex (membuka di 61 sebelum TMB, dan menutup di 40 setelah TMA) dan 267° pada in (membuka di 31 sebelum TMA, dan menutup di 56 setelah TMB). Lift klep ex 8,18 mm dan in 8,38 mm. “Secara keseluruhan tidak ada ubahan signifikan di mesin. Hanya saja, ada bagian di head yang didesain spesial untuk menjaga durability. Sehingga, sanggup digeber di putaran tinggi dalam waktu lama,” bisik Tomy Huang. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan : FDR 90/80-17
Ban belakang : FDR 90/80-17
Knalpot  : R9 Racing
Sok belakang: Kayaba
Kaliper rem: Nissin


REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Minggu, 13 Juli 2014 11:40 WIB
Yamaha Jupiter-Z 2007 (Ponorogo)

Yamaha Jupiter-Z 2007 Ponorogo, Ramuan Beringas di Bawah dan Tengah


Penulis : Candra
Foto : Candra

Hampir di semua gelaran balap, kini diwajibkan pakai bahan bakar Pertamax Plus. Itu sebabnya David Surya Pratama, juragan tim Aurora AMRF NHK CLD Primaax Creampie GDT (AANCPCG), enggan gonta-ganti settingan yang bikin dana membengkak. Mereka kini fokus seting mesin berdasarkan Pertamax Plus.
“Untungnya bahan bakar ini juga bisa diseting sesuai karakter pembalap. Kayak yang diterapkan mekanik kami, Erwin Yunanto pada pacuan Faisol Sidoel,” bilang David.
Faisol lebih doyan ubahan mesin yang maksimal di putaran bawah ke tengah. Sedang untuk atasnya hanya menysuaikan kebutuhan sirkuit yang non permanen. Untuk bisa dapat itu, modalnya Erwin terapkan rasio kompresi mesin 12,4 : 1. Rasio segitu tergolong rendah buat pacuan balap, tapi terbilang tinggi saat pakai Pertamax Plus.
Caranya, dengan menjejali blok silinder pakai piston Kawahara berprofil jenong yang dome-nya diset 1,5 mm. “Diameter piston 55,25 mm untuk kejar 130 cc. Posisi pemasangannya dibuat mendem sekitar 0,4 mm dari bibir liner,” bilang mekanik berambut cepak ini.
Mendem segitu setelah paking blok silinder pakai setebal 0,5 mm dari bahan aluminium. “Enaknya pakai paking aluminium, ketebalan paking nggak mudah menyusut ketika mesin panas,” ungkap tuner asal kota sate Ponorogo. Efeknya, kompresi selalu terjaga optimal. Sehingga performa mesin selalu stabil.
Selain kompresi, tentu korekan mesin juga pegang peran signifikan. Guna mengail asupan gas deras ke ruang bakar, serta memlancarkan pembuangan gas hasil pembakaran, klep diganti gede. “Pakai punya Honda Sonic. Diameter in 26 mm, sedang outnya 23 mm. Profil kem juga dirancang ulang dengan tinggi angkatan klep (lift) mencapai 9,3 mm,” bilang mekanik berbadan tegap ini.
Terakhir, mengimbangi karakter balap Faisol yang liar, magnet bawaan motor dibubut biar lebih enteng. “Bubutnya sampai dapat 700 gram. Itu sudah cukup kok untuk bikin putaran as kruk akan makin ringan,” tutup Erwin.
Ramuan itu mengena. Di kelas Bebek 4-Tak 115 cc Tune Up (MP3) kejurda Jatim, Jupiter tim AANCPCG ini mampu dominasi hampir di tiap seri. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban dpn.blkg : Primaax, 90/80-17
Sok belakang: YSS double click
CDI : Rextor Pro Drag
Knalpot : Creampie
Karburator: Mikuni TM


REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Sabtu, 05 Juli 2014 19:26 WIB
Honda Blade 110 2008 (Aceh)

Modifikasi Honda Blade 110 2008 Aceh, Dari Bawah Sudah Ngisi Gimana Tengah Atasnya


Penulis : Panji
Foto : Tining

Karakter balap Abdul Malik, “saat keluar tikungan, power mesin wajib ngisi,” curhat Purwanto, chief mekanik tim Capella Honda FIF NHK Racing Team. Menyiasati itu, mekanik asal Bagan Batu, Sumatera Utara ini meracik kem dengan durasi tinggi di Honda Blade pacuan Malik.
Saat turun di One Make Race HRC Blade Racing Championship di alun-Alun Kota Stabat (25/6) lalu, kem in dibikin 277° dan klep ex cukup 270. Rinciannya, valve isap membuka di 33° sebelum TMA dan menutup 64° sesudah TMB. Sedangkan klep buang open di 56° sebelum TMB dan menutup 34° setelah TMA. Angka segitu untuk membuka klep berdiameter 27,5 mm (in) dan 23 mm (ex). Lobe Separation Angle (LSA) diset 102°.
Lalu rasio kompresi dibuat enggak terlalu tinggi 12,7:1. Didapat dari pemakain piston berdiater 51,25 mm yang dikombinasi kruk as Honda Supra X 125 dengan stroke 57,9 mm (kapasitas silinder jadi 119,3 cc, dibulatkan 120 cc).
Bibir piston dibikin mendem 0,4 mm. Paking blok hanya pakai setebal 0,2 mm. Sehingga, total mendem jadi 0,6 mm. Sebenarnya pada pacuan balap, clearance segitu kadang riskan terhadap endurance mesin. Biasanya, mekanik bermain di angka 0,8mm-0,9 mm.
Tapi, Purwantro berani mengambil keputusan itu. Pasalnya, karakter sirkuit non permanen Alun-Alun Kota Stabat banyak dihiasi trek pendek. Sehingga, kitiran mesin enggak perlu terlalu teriak. Sehingga dirasa aman dibuat mendem 0,6 mm. Biar mesin adem, karburator TM 24 dijejali spuyer agak ‘basah’. “Pilot-jet 30 dan main-jet 165,” jelas ayah satu anak ini.
Agar makin sempurna melibas sirkuit pasar senggol, sok belakang dipilih merek Daytona. Tentu setingan dibikin keras supaya cepat balik kala melahap tikungan. Hasilnya, mesin Blade enggak jebol, malah pembalap bernomer start 45 ini berhasil merajai kelas HRC 1 (Bebek 4- tak Tune up Seeded) dengan naik podium pertama.
Padahal kalau dihitung volume silinder yang dihasilkan dari kombinasi piston berdiameter 51,25 mm plus stroke 57,9 mm, Blade ini hanya mencapai 119,3 cc. Congrat’z, bro! (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
CDI: BDT Superpro
Ban depan: FDR MP57 90/80-17
Ban belakang: FDR MP76 90/80-17
Koil: Standar
Cakram depan: Daytona


REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Sabtu, 21 Juni 2014 09:28 WIB
Yamaha Jupiter-Z 2009 (Yogyakarta)

Modifikasi Yamaha Jupiter-Z 2009 Yogyakarta, Pacuan Hendriansyah Yang Bikin Pembalap Muda Ketar-Ketir


Penulis : Nurul
Foto : Nurul

Kiprah Hendriansyah sebagai wildcard di ajang Indoprix Championship (IPC) 2014, bikin pembalap muda ketar-ketir. Benar saja, meski sudah tidak muda lagi, Hendri berhasil sabet double winner di seri kedua IPC yang digelar di sirkuit Skyland, Sekayu, Sumatera Selatan belum lama ini. Wah, tua-tua keladi nih, hehehe..
Racikan Yamaha Jupiter-Z tunggangan Hendri juga menarik diteliti. Pasalnya, motor yang sudah tidak diproduksi lagi ini bisa mengubur dominasi Jupiter Z1 yang belakangan berkuasa di ajang Indoprix.
“Daya tahan mesin dan seting suspensi yang pas jadi kuncinya. Paling utama peran suspensi, harus benar-benar diperhatikan agar cengkraman ban tetap terjaga hingga akhir putaran,” ucap Torana Tuladong, juru korek tim Evalube Go & Fun Nissin FDR KYT HRP Gandasari.
Pada seri dua lalu, peran suspensi sangat diperhatikan untuk menjaga kondisi ban yang sangat mudah terkikis. Di Jupiter Z, sok belakang diseting lebih empuk dibandingkan dengan setingan sok yang sama saat main di sirkuit Karting, Sentul (Jawa Barat) seri 1 silam. Tujuannya, agar kerja ban tidak terlalu keras meredam guncangan di trek bumpy.
Untuk mengangkat performa mesin, Torana andalkan piston forging buatan Kawahara berdiameter 55,25 mm. Dengan stroke standar Jupiter-Z yang 54 mm, kapasitas silinder meningkat jadi 129,1 cc.
Klep pakai milik Honda Sonic dengan kombinasi bagian isap 28 mm, dan klep buang 24 mm. Sitting klep pakai bahan beryllium copper atau BeCu, buat jaga kompresi yang dipatok 12,2 : 1 gak mudah bocor dan selalu konstan.
“Durasi noken as diset 282 di bagian isap, dan buangnya 280. Rinciannya, klep isap membuka 40 sebelum TMA dan menutup 62 setelah TMB. Klep buang membuka 62 sebelum TMB, dan menutup 38 setelah TMA. Lift keduanya 9,2 mm dengan overlap 3,6 mm,” tutup mekanik yang bermarkas di Yogyakarta ini. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban: FDR Sport FR 75
CDI: BRT I-Max Super Pro
Knalpot: R9
Koil: Yamaha YZ 125
Sok belakang : YSS


REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Sabtu, 14 Juni 2014 17:46 WIB
Honda Blade 2013 (Medan)

Modifikasi Honda Blade 2013 Medan, Terapkan Kompresi Ideal Untuk Bisa Kedepan


Penulis : Belo
Foto : Belo

Dalam dua seri OMR Honda region Sumatera Utara di sirkuit Pacing, Medan dan Stabat, Honda Blade pacuan Adrian Aritonang dari Tim Honda Indako NHK FDR SSS selalu tampil juara di kelas MP4 (bebek 4-tak tune up 110 cc pemula). Ini tidak lepas dari ramuan sang mekanik, Sardin Gorad Pasaribu yang coba terapkan kompresi ideal buat minum Pertamax Plus. 
“Regulasi OMR Honda harus menggunakan bahan bakar oktan 95 atau Pertamax Plus. Makanya sejak akhir tahun lalu sudah mulai riset dan hasilnya cukup memuaskan,” kata mekanik yang hobi pakai topi rimba ini.
Agar motor bisa melesat cepat di trek lurus maupun saat keluar masuk tikungan, ia harus jeli tentukan perbandingan kompresi yang tepat. “Dari beberapa kali coba-coba, rasio 12,3 : 1 lah pas. Cuma turun sedikit dibandingkan waktu pakai bensol,” lanjutnya
Dengan perbandingan tersebut, sukses mengail tenaga gede sejak rpm bawah, tengah hingga atas. Tentunya didukung pula dengan ubahan pada komponen mesin lainnya. Oh iya, perbandingan segitu didapat Sardin setelah jejalkan piston jenong merek FIM berdiameter 51,25 mm. Diteruskan memapas cylinder head sebanyak 0,8 mm dan mendesain kubah berbentuk bath-up.
Kemudian guna memancing campuran gas yang banyak ke ruang bakar serta memperlancar pembuangan gas hasil pembakaran, profil kem dirancang ulang. Bagian in diset membuka di 34 sebelum TMA dan nutup di 58 setelah TMB (durasi 272°). Sedangkan ex-nya diatur membuka di 56 sebelum TMB dan nutup di 35 setelah TMA (271). 
Sebagai pintu keluar masuk campuran gas dan sisa gas buang, ditugaskan klep in 26 mm dan out 23 mm. Pengabutan bahan bakarnya dikomandoi Mikuni TM 24 mm, dengan kombinasi main jet 170 dan pilot jet 27,5. Plus nozel tipe P5. Knalpot pakai produk keluaran AHM.
Satu lagi yang jadi andalan besutan Adrian ini, yakni pada bagian kampas koplingnya. “Saya tetap andalkan rumah kopling tipe KWB yang masih model diafragma bukan per. Ini membuat putaran atas motor lebih ngisi,” tutupnya .
DATA MODIFIKASI
Sok belakang: Ohlins
Pelek depan: 1,40 x 17
Pelek belakang: 1,60 x 17
Ban: FDR MP76 90/80-17
Knalpot: AHM


REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Minggu, 15 Juni 2014 09:40 WIB
Yamaha Jupiter-Z 2008 (Semarang)

Modifikasi Yamaha Jupiter-Z 2008 Semarang, Rumusan Untuk BBM


Penulis : Niko
Foto : Niko

Perubahan menggunakan Pertamax Plus di motor Rizky sudah diterapkan di kejurnas grasstrack region 2 untuk musim ini. “Hasilnya sama aja, lho. Motor juga bisa kencang,” ujar Rizky yang di seri terakhir kejurnas garuk tanah seri IV, Pandeglang (25/5), jadi kampiun pertama Bebek Modifikasi 4-tak 130 cc Senior.
“Problem awalnya, power waktu keluar tikungan. Kalau pakai bensol, tenaga bisa cepat keluar. Tapi Pertamax masih agak nahan,” beber Imam, pemilik Malabar Motor Sport (MMS), Semarang.
Kendala inilah yang dilacak Imam yang pernah jadi salah satu tunner road race papan atas nasional. “Durasi kem sih sama aja. Tapi, enggak tahunya butuh overlap rendah kalau pakai Pertamax Plus,” jelas juru korek yang sudah berumur 41 tahun itu.
Sebelumnya, Imam mengeset overlap klep in dan out antara 3,8 mm sampai 3,9 mm. Ukuran ini disamakan saat menggunakan bensol. Tapi, setelah dites berkali-kali baru deh ketemu tinggi overlap 3,7 mm sampai 3,75 mm dengan bensin Pertamax Plus.
“Overlap rendah dengan bensin Pertamax Plus tenaga mesin jadi cepat keluar waktu keluar tikungan,” bilang Imam. “Jadinya terasa enggak beda dengan pakai bensol,” timpal Rizky yang baru tahun ini naik ke kategori Senior di kejurnas grasstrack.
Menggunakan Pertamax Plus juga butuh kompresi rendah. Imam mematok paling tinggi 12,5 : 1. “Tinggi dome piston pun penting. Pakai bensol tinggi kepala piston bisa 3,5 mm. Tapi, setelah pakai Pertamax Plus tinggi dome piston cuma 2 mm,” kata Imam yang berkulit sawo matang.
Setelah ruang bakar ketahuan spesifikasinya, tinggal settingan karburator. Seting komponen pengabut bensin dan udara ini pastinya disesuaikan kondisi temperatur di sirkuit.
“Tapi, prinsipnya spuyer pilot-jet dan main-jet pasti naik tinggi kalau pakai Pertamax Plus. Pakai bensol di temperatur panas main-jet 108. Pas pakai Pertamax Plus jadi 118,” ujar Imam.
Naiknya spuyer untuk menjaga temperatur mesin supaya enggak naik kelewat tinggi. Semakin banyak suplai bensin, semakin dingin ruang bakar. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan : Swallow 70/100-19
Ban belakang : Swallow 90/100-16
Knalpot  : AHRS
Piston: Daytona, 55,5 mm


REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Senin, 12 Mei 2014 19:26 WIB
Modifikasi New Honda Blade 2013 (Bandung)

New Honda Blade 2013 Bandung, Pecahkan Rekor Sentul Kecil Yang Pernah Dicetak Sigit PD Tahun Lalu


Penulis : Athaya
Foto : Yudi, Athaya

Rekor sebelumnya yang dicetak Sigit PD tahun lalu di sirkuit Karting, Sentul, Jawa Barat dengan catatan waktu 57,845 detik, di seri 1 Indoprix (27/4) kemarin pecah oleh I Gede Arya jadi 56,333 detik di atas New Honda Blade 110 cc andalan Honda Daya KYT Nissin Daytona IRC.
Tak heran bila pembalap yang akrab disapa Ucil ini mampu menunjukkan perlawanan sengit terhadap barisan Garputala yang mendominasi lini depan pakai Z1 sejak race 1. Malah di race ke-2 Ucil sempat memimpin jalannya lomba hingga 1 lap lagi menjelang finish.
Meski di pertengahan lomba Fitriansyah Kete sempat mengambil posisi terdepan, namun Ucil hanya butuh 1 lap untuk ambil alih pimpinan. Sayang, masuk lap terakhir Blade Ucil melintir di tikungan parabolik jelang R2. “Lari motor kayak mau out,” tukasnya. 
Banyak kalangan mengakui performa Blade Ucil ini memang dahsyat. Terbukti sanggup melawan Z1 yang ada campur tangan teknisi dari Yamaha Jepang. Sementara Blade Honda Daya ini murni korekan mekanik lokal, yakni digarap Suhartanto ‘Kupret’.
Power maksimum yang mampu dimuntahkan dapur pacunya kata Kupret tembus 19,5 hp di putaran 13 ribu rpm di atas mesin Dyno Star milik Daytona. “Tapi, torsinya cuma 12,6 Nm/9.500 rpm. Sengaja nggak gede-gede, biar tak terlalu liar buka-bukaannya,” imbuhnya.
Untuk mendapatkan performa segitu, item ubahannya antara lain piston pakai keluaran Daytona diameter 51,25 mm untuk kejar volume silinder 115 cc. Rasio kompresi mesin diset 12,2 : 1.
Trus, untuk memperderas aliran campuran gas ke ruang bakar, lubang inlet di bagian luar digedein jadi 25 mm. Lalu, yang arah ke sitting jadi 24 mm. Tapi, bagian tengahnya dibuat membesar.
Mengimbanginya, klep in digedein pakai produk EE diameter 27 mm. Sedang ex-nya pakai diameter 23 mm yang kemudian diikuti merancang exhaust port yang dibikin membesar di bagian ujung. Yakni 23,5 mm, agar aliran gas buang makin lancar. 
Nah, untuk menyemburkan kabut Pertamax ke ruang bakar, ditugaskan karbu Mikuni TM24 kombinasi spuyer 30/185 (pilot jet/main jet). Dilanjutkan membentuk ulang profil kem. “In-nya membuka di 34º sebelum TMA dan menutup di 58º setelah TMB (durasi 272º). Lift-nya mencapai 9,3 mm dengan LSA 103º,”  beber Kupret.
Sedang kem ex durasinya agak diperkecil jadi 269º. Membuka di 57º sebelum TMB dan menutup di 32º setelah TMA. Lift pun dibikin lebih rendah 0,2 mm. Karakter yang dihasilkan, membuat performa mesin di putaran bawah dan tengah jadi dahsyat. Makanya keluar masuk tikungan, Blade pacuan Ucil mempu melesat lebih cepat.
DATA MODIFIKASI
Gigi rasio: Gigi 1 - 4 = 13/31,17/30, 20/28, 23/25
Final gear : 14 – 40 (Sentul kecil)
Magnet : Standar bubut 650 gr
CDI : BRT I-Max 8 step


REFERENSI :
www.motorplus-online.com

 abtu, 03 Mei 2014 09:40 WIB
Modifikasi Honda BeAT 2011 (Subang)

Honda BeAT 2011 Subang, Teknik Apik Biar Cepat Keluar Dari Tikungan Tajam


Penulis : Tining
Foto : GT, Panji

Sirkuit Stadion Maulana Yusuf, Serang, Banten, tergolong banyak tikungan tajam. Tuner wajib putar otak berkali-kali buat mengatasi tipikal trek seperti ini.
Menurut Mansuri, mekanik Empush Racing, kecepatan bukaan setelah melibas tikungan jadi kunci buat atasi trek seperti itu. Sebaiknya motor cepat teriak ke putaran atas, supaya setelah nikung bisa keluar lebih cepat lagi," terang Suri, panggilan mekanik asal Meruya, Jakarta  Barat ini.
Hal inilah yang diterapkan Suri ke pacuan Honda BeAT milik tim CLD Apry Megaprima FDR PSM Empush KYT asal Subang, Jawa Barat. Untuk itu rasio kompresi mesin harus ditinggikan. Agar cepat keluar dari tikungan. Untuk BeAT ini, Suri mematoknya di angka 12,8 : 1.
Terjun di kelas 130 cc, piston CLD dengan diameter 55 mm yang dikawinkan dengan stroke standar yang 55 mm. Volume silinder pun, kini jadi 130,6 cc.
Tak hanya dari bore up saja yang digadang-gadang bisa bikin mesin cepat teriak. Bibir piston dibikin mendem tipis dari bibir blok.
Setelah itu, head silinder dijejali dengan klep Sonic 28/24 mm yang dipasangkan dengan per klep keluaran CLD. Agar rpm tinggi setelah tikungan tercapai, pengaturan durasi buka-tutup klep dimainkan juga. Buat klep in dan ex, durasi bermain di 266 derajat. Lalu, bukaan angkatan klep alias lift klep ditetapkan di angka 9 mm. Ini berlaku untuk kedua klep. Tujuannya, agar asupan dan buang sisa pembakaran ikut imbangi kebutuhan mesin yang sudah bore up.
Ditambah lagi, asupan pengabutan bahan bakar dan udara juga sudah aplikasi karburator Keihin PWK 28 mm. Karbu ini, diyakini mampu menyemprotkan secara deras bahan bakar Pertamax Plus. Terutama di putaran bawah.
Agar sisa pembakaran terbuang lancar, knalpot comot milik CLD. Hasilnya, pacuan yang dibeger Dani Alamsyah ini berhasil mengumpulkan poin tertinggi di event seri perdana Pertamina Enduro Nissin BRT Matic Race (PENBMR) 2014 di Serang beberapa waktu lalu. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan : FDR 90/80-14
Ban belakang : FDR 90/80-14
Knalpot  : CLD Racing
Kampas kopling: CLD Racing


REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Senin, 28 April 2014 14:46 WIB
Modifikasi Honda Mega Pro 2008 (Wonosobo)

Honda Mega Pro 2008 Wonosobo, Tiru Sasis KLX 150 Biar Enak Diajak Nyusruk Hutan dan Adventure


Penulis : Andika
Foto : Andika

Sebagai seorang bikers, Ismono Mondiel termasuk pribadi yang unik. Di sela-sela rutinitas pekerjaan yang sibuk, pegawai Dinas Pertanahan Kabupaten Wonosobo ini juga demen nyusruk hutan buat adventure. Asyiknya, semplakan yang dipilih justru hasil modifikasi. Karena, menurut pria nyentrik ini, hasil ubahan modifikasi lebih nyaman dipakai adventure. Sebab, bisa menyesuaikan spek sesuai kebutuhan.
Tak heran jika doi ubah fungsi Honda Mega Pro jadi model trail. Acuan yang disasar, yaitu permak sasis yang nyaman dipakai melibas segala medan. “Sedangkan untuk mesin, saya lebih suka karakter Mega Pro yang memiliki torsi besar. Tapi, untuk kenyamanan sasis, saya suka karakter handling Kawasaki KLX 150,” cocor pria berusia 56 tahun ini.
Mengejar bentuk sasis yang ringan seperti KLX 150, pria yang gaul disapa Mondiel ini, tos bro sama Yudi Wiyanto yang punggawa Santoso Motor (SM) Wonosobo. “Caranya, dengan membuat sasis baru dengan model KLX 150. Bentuknya ringkas, karena memang speknya untuk model trail murni. Seperti model sasis utama dari pipa besi 1,5 inci,” papar modifikator yang punya workshop di Jl. Mayjend Bambang Sugeng No. 15B, Wonosobo, Jawa Tengah ini
Rancangan sasisnya sesuai postur, kejar bentuk KLX. Namun, ada penyesuaian dalam aplikasi. Contohnya, sasis utama dari komstir hingga as lengan ayun memakai pipa bulat, bukan model kotak seperti KLX. Hal ini, karena memperhitungkan dimensi mesin Mega Pro yang sedikit besar. Termasuk, dudukan mesin bagian depan yang nemplok pada down tube baru. Racikannya dibuat mendekap mesin hingga bagian bawah, sekaligus melindungi mesin dari benturan. Karena, dibuat bercabang dibagian depan mesin dan menyatu sasis belakang mesin.
Bagian sub frame, dibuat lebih simpel dengan material pipa besi 3/4 inci. Rancang-bangun, lebih sederhana. Karena, sasis belakang hanya digunakan sebagai dudukan jok dan tempat dudukan aki. Namun, secara keseluruhan terlihat dinamis. Apalagi, Yudi menggabungkan komponen limbah sebagai finishing bentuk agar terlihat ideal. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan: Kenda 80/90-21
Ban belakang: Maxxis 100/100-18
Pelek depan: TK 1,60X21
Pelek belakang: TK 2,15X18


REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Sabtu, 12 April 2014 17:23 WIB
Modifikasi Yamaha Mio 2008 (Bekasi)

Yamaha Mio 2008 Bekasi, Main di Kompresi Rendah, Eh Malah Jadi Juara


Penulis : Panji
Foto : GT, Panji

Engine FFA di Matic Race tergolong ekstrim. “Agar bisa menyentuh garis finish wajib tahan selama balapan,” jelas Anton Solihin alias Anton Bule, manager tim KRS CV Giri Cilik.
Itulah kunci kemenangan Julio Usmanius di Pertamina Enduro Nissin BRT Matic Race (PENBMR) 2014 (2/2), kelas Matic FFA s/d 350 cc. Kala itu digelar di sirkuit dadakan area Parkir Stadion Maulana Yusuf, Serang.
Podium pertama ini karena endurance yang tinggi. Caranya menerapkan rasio kompresi rendah.
Pakai Pertamax Plus hanya dikasih kompresi 10,5 : 1. Padahal pakai Pertamax Plus, rasio kompresi harusnya bisa sampai 12,5 : 1. Tapi, supaya aman cukup 10,5 : 1.
Menurut Agus Bule, kompresi segitu didapat dari isi ruang bakar 23,5 cc. Kemudian volume silindernya 222,5 cc. Kalau dihitung pakai rumus rasio kompresi hasilnya 10,5 : 1.
“Sedangkan isi silinder 222,5 cc didapat dari piston diameter 70 mm merek Kawahara. Dikawal stroke standar 57,9 mm,” kata Ricat Hansen, chief mekanik tim yang punya bengkel Cong Speed 212 di Bekasi.
Dengan kompresi rendah, tidak membuat panas mesin membara. Tekanan di dalam silinder juga tidak terlalu tinggi. Sehingga tidak mudah overheat dan tidak mudah jebol.
Supaya aman lagi, bibir piston dibikin mendem 0,5 mm. Sudah termasuk aplikasi paking blok 1 mm namun belum dipasang paking head. Kalau ditambah paking head 0,3 mm jadinya 0,8 mm. Jadinya aman.
“Perbandingan kompresi engine dibikin rendah, tujuannya untuk menghindari over power. Kalau over power, bisa bikin komponen CVT mudah rusak,” Perbandingan kompresi rendah didapat, lewat seting
Masuknya bahan bakar, diatur klep in 35 mm dan ex 30 mm. Kedua klep ini, didorong noken as durasi in-ex 280 derajat. Klep isap membuka 35 sebelum TMA (Titik Mati Atas) menutup 65 setelah TMB (Titik Mati Bawah). Klep buang membuka 65 sebelum TMB dan menutup 35° setelah TMA. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Sok belakang: Daytona
Ban: FDR Sport XR 90/80-14
CDI: BRT Hyperband
Cakram: Kawahara
Knalpot: CLD
Karburator : Keihin PE 28
Pilot/main-jet: 48/ 145
Roller : 6 gram rata
Rasio : 14/40


REFERENSI :
www.motorplus-online.com

 Kamis, 13 Maret 2014 09:04 WIB
Honda Supra X125 2008 (Medan)

Honda Supra X125 Berbekal Mesin Road Race


Penulis : Nurul
Foto : Nurul

Supra X125 yang dipacu Ridho Pratama mengusung mesin bekas. Tapi, bukan sembarang bekas. Mesin Supra ini bekas mesin balap road race untuk turun di kelas MP1. Makanya, Ridho bisa melesat di kelas Bebek 4-tak Senior Senior kejuaraan Sergai Open Motocross & Grasstrack 2014.
Menurut Bambang Wahyudi selaku tuner tim PT Siddiq Perkasa Medan, basic ubahan mesinnya masih sama dengan yang digunakan saat road race. Namun, ada juga beberapa ubahan yang ikut disesuaikan kebutuhan grasstrack,” tegas mekanik 35 tahun ini.
Seperti magnet, dibuat total loss agar putaran mesin bisa lebih ringan. Magnetnya masih pakai standar yang dibubut hingga memiliki berat 450 gram saja. Hasilnya putaran mesin terasa ringan saat melibas track keriting khas lintasan garuk tanah.
Untuk durasi buka-tutup klep ikut diatur ulang. Durasi dibuat kembar 276 derajat. Rincinya, klep isap dibuat membuka 35 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 61 derajat setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedangkan klep buang, membuka 61 derajat sebelum TMB, dan menutup 35 derajat setelah TMA.
Penyembur bahan bakar ke dalam silinder, adopsi karburator Mikuni Sudco TM 28 mm. Pilot jet menggunakan ukuran 27,5 dan main jet-nya  pakai ukuran 160.
“Piston pakai punya Supra X125 oversize 100. Strokenya juga masih standar karena ikut ke regulasi MP1 di road race,” tambah Bambang yang mulai banyak job menggarap mesin grasstrack.
Untuk rasio kompresi mesin dipatok 12 : 1. Kini lebih rendah jika dibandingkan kompresi mesin saat road race yang gunakan 13,2 : 1. Ubahan ini membuat kondisi part mesin bisa lebih awet. Jumlah lap grasstrack yang lebih sedikit dibanding road race juga menjadi salah satu faktor pendukung kenapa part bisa lebih awet.
Untuk penunjang, rangka asli Supra dicustom agar bisa lebih kokoh dan pas saat dipakaikan baju Honda CRF 85. Kaki-kaki tak luput dari ubahan. Suspensi depan sudah adopsi model upside down, dan suspensi belakang pakai part aftermarket agar lebih mumpuni. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Knalpot : AHRS
Cover body : Honda CRF 85
Pelek : TK
Upside down : Kawasaki KX 85
CDI : BRT Imax Super Pro


REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Rabu, 19 Pebruari 2014 13:09 WIB
Yamaha Jupiter MX 135LC 2006

Modifikasi Yamaha Jupiter MX 135LC 2006 Jakarta, Rongsokan Jadi Juara


Penulis : Panji
Foto : Panji

Ikut Fun Race enggak butuhkan duit lebih. Namanya juga Fun Race yang penting fun alias senang. Modal motor dan engine, bisa pakai part yang ada. Mau kenceng? Bisa manfaatkan part copotan rongsokan dari tim balap beneran. Seperti yang dilakukan tim ABJ 13 RT. Tim ini, turun di event Fun Race yang diadakan di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat (26/1). Yamaha Jupiter MX 135LC yang jadi juara di kelas Bebek 4-tak ini, hanya pakai part rongsokan dari tim ternama.
“Hampir semua part yang nempel adalah rongsokan bekas pakai tim balap besar. Tentunya agar kencang, develop engine juga wajib dilakonin,” bilang Muhamad Iqbal Firdaus, yang jadi tunnernya. Mulai dari engine, sepaket blok silinder yang isinya piston diameter 62 mm itu, limbahan dari Gery Motor. Tapi, enggak bolt on, diseting dulu. Piston yang didorong stroke standar 57,8 mm dibikin mendem 0,2 mm.
Kejar kompresi padat, head silinder dipapas sekitar 3 mm dan blok silinder diganjar paking 0,5 mm. Hal ini, hasilkan rasio kompresi mesin 13,9 : 1.
Head ini diisi kem dengan durasi in 248 derajat dan ex 251 derajat. Durasi kem itu untuk atur buka-tutup klep berukuran in 21 mm dan ex 19 mm. Klepnya pakai punya Honda CBR 250R dengar lingkar batang 4,5 mm. Menurut Iqbal, pakai klep ini bikin flow bahan bakar dan gas buang jadi bagus dan endurance sudah teruji.
“Jupiter MX ini diseting agar power keluar galak mulai dari rpm bawah-tengah. Tapi, putaran atas flat,” jelas Iqbal. Bantu power di putaran atas, setingan karburator Keihin PE 28 mm dibikin basah. Makanya, dijejalkan pilot jet 55 dan main jet 128. Agar bahan bakar dibakar habis, pengapian dibikin advance pakai CDI BRT Dual Band. Lalu, final gear dipilih ukuran 15/35 mata. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban: FDR MP 76
Pelek belakang: TK 1.60 x 17
Pelek depan: Daichi 1.40 x 17
Cakram: Racing Boy
Sok belakang: KTC



REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Selasa, 10 Desember 2013 13:09 WIB
Yamaha Force-1 2004

Modifikasi Yamaha Force-1 2004 Semarang, Tenaganya Beringas di Putaran Atas


Penulis : Niko
Foto : Niko

“Strategiku enggak ngotot ke depan di lap-lap awal,” beber Akbar Taufan yang ngegas Yamaha Force-1 di Powertrack Purwakarta, Jawa Barat (17/11). Dia kuasai dua moto kelas Bebek Modifikasi 2-tak Senior dengan kondisi tangannya patah akibat balapan di Kalimantan, seminggu sebelumnya.
Strategi Akbar cocok dengan karakter motor yang dipakainya. Tunggangannya enggak menganut power besar di putaran bawah. Jadinya, tenaga Akbar enggak cepat terkuras. Seandainya karakter motor bertenaga besar saat di gasingan bawah, tangan Akbar yang cedera pasti sudah cnut...cnut...cnut.
“Ada perubahan di karburator. Sebelumnya pakai karbu venturi 34 mm. Saya ubah pakai karburator venturi 38 mm. Karena sirkuit balapan setingkat nasional, panjang-panjang. Akselerasi jadi lebih cepat dan panjang,” ujar Imam Safi’i, dalang mesin Force-1 yang dipakai Akbar, dari Semarang, Jawa Tengah.
Dengan karburator ukuran 38 mm pastinya bikin suplai udara dan bahan bakar akan lebih besar dibanding yang ukurannya 34 mm. “Karena itu, enggak perlu torsi besar seperti motor tahun lalu. Kelebihannya cuma di sirkuit pendek-pendek,” urai Imam yang terkenal di jajajaran mekanik road race era di bawah 2008.
Selain pilihan karburator yang besar harus diimbangi reed valve atau katup buluh yang sesuai. Tujuannya supaya suplai bahan bakar sesuai dengan kebutuhan ruang bakar.
“Saya pakai V-Force. Tapi, membrannya diganti pakai katup buluhnya Yamaha RX-Z. Membran RX-Z lebih kuat dan stabil,” bilang Imam yang punya bengkel balap bernama Malabar Motor Sport (MMS).
Karena mementingkan suplai bahan bakar yang besar, kompresi ditekan. “Pokoknya enggak tinggi dibanding sebelumnya deh. Tinggi lubang buang 26 mm. Sudut squish 14,5 derajat,” tutup Imam yang pernah turun di balapan Asia. (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan : IRC 70/100-19
Ban belakang : IRC 90/100-16
Sok belakang: KYB
Magnet: Yamaha YZ125



REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Kamis, 05 Desember 2013 18:03 WIB
Honda Supra X125 2010

Modifikasi : Honda Supra X125 2010 Cibinong, Lebih Presisi Karena Dibikin Dengan Sistem CNC


Penulis : Athaya
Foto : GT, Athaya

Pacuan berkelir putih yang dipacu Harlan Fadhillah di bawah payung tim Pertamina Enduro BRT Nissin Cargloss ini satu dari sekian Honda Supra X125 yang mampu mengimbangi lari New Blade pacuan Owie Nurhuda. Terlihat di seri final Honda Racing Championship (HRC) di Cimahi, Bandung minggu lalu.
Catatan waktu tercepat pada QTT kelas bebek tune up 125 cc seeded (HRC 1), berhasil dibukukan Harlan di atas motor bertenaga 21,5 dk (diukur di atas mesin Dynojet 250i) ini, yakni 1 menit 1,258 detik. Harlan juga sukses finish terdepan di race 2 setelah memanfaatkan jatuhnya Owie beberapa lap menjelang finish di race 2.
“Motor ini peninggalan Rey Ratukore. Tapi, setingan mesin sudah diubah. Makanya tenaganya bisa naik. Dulu cuma 19 dk lebih,” beber Islahudin, mekanik BRT yang turut menangani oprekan mesin Supra X125 Harlan.
Kunci naiknya performa terletak pada proses pengerjaan cylinder head dan pembentukan profil kem. “Sudah pakai mesin bubut CNC (Computer Numerik Control). Hasilnya lebih presisi. Sitting klep pakai bahan beryllium yang lebih kuat dan tahan temperatur tinggi,” tukas Tomy Huang, bos BRT.
“Untuk durasi kem in 273º dan out 280º dengan lift 9,1 mm dan LSA di 102º - 108º, tinggal masukin angka derajat kem. Diset buka dan tutup serta tinggi angkatan klepnya pada CNC-nya. Akan terbentuk profil kem presisi sesuai hitungan kita,” terang Islahudin.
Begitu pula ketika seting sudut kemiringan dudukan bos klep, papas head dan bagian-bagian yang butuh kepresisian, pengerjakan dilakukan CNC. (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI

Ban : FDR SportMax MP 27, 90/80-17
Sok depan : Kayaba
Sok belakang : Daytona Supershock
Kaliper depan : Nissin 2 piston
Knalpot : R9 Titanium
Karburator : PWK 28 (PJ/MJ 62/112)\


REFERENSI :
www.motorplus-online.com


Rabu, 27 November 2013 12:07 WIB
Honda Supra X 125 2013

Modifikasi : Honda Supra X 125 2013 Bandung, Semuanya Kencang!


Penulis : ADV
Foto : Dok M+

Setelah Andi Gilang berjaya di Honda Racing Championship (HRC) Purbalingga, Jawa Tengah (13/10), kini giliran rekan setimnya. Aditya Pangestu mendominasi kelas 125 cc Tune up pemula di HRC Di seri Tegal, Jawa Tengah (3/11).
Selain skill pembalap yang mumpuni, motor yang ditunggangi pembalap tim Honda Daya KYT Walini Federal Oil FDR ini juga menjadi salah satu kunci kemenangannya. "Paling utama setingan motor harus sesuai dengan karakter pembalap. Untuk tunggangan Aditya, karakter motornya dibuat lembut di putaran bawah, tetapi bengis di putaran menengah dan atas," ucap Arif Shetep, mekanik yang meracik motor ini.
Untuk mendongkrak tenaga besar yang dimiliki Supra X125, piston diubah menggunakan produk Izumi berdiameter 53,4 mm. Hal ini juga demi menyesuaikan regulasi yang membolehkan kapasitas silinder hingga 130 cc.
Sesuai dengan regulasi yang mewajibkan penggunaan bahan bakar beroktan 95, rasio kompresi mesin tidak dipatok tinggi. Shetep hanya memakai kompresi 12,8 : 1 di tunggangan pembalap asal Subang, Jawa Barat ini.
Mengatur keluar masuk bahan bakar di ruang silinder, klep diganti menggunakan klep Honda Sonic yang dimodif. Klep in pakai payung klep berdiameter 26 mm, sedangkan klep ex pakai payung 23 mm.
Menyesuaikan dengan ubahan pada payung klep, saluran hisap dan buang ikut dirombak. Lubang bibir klep isap diporting jadi 25,5 mm, sedangkan lubang klep ex dipatok 23 mm.
Durasi noken as disesuaikan. In dibuat berdurasi 274°. Membuka 34° sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 60° sebelum TMB (Titik Mati Bawah). Sedangkan klep buang berdurasi 273°. Hitungannya, membuka 60° sebelum TMB, dan menutup 33° setelah TMA.
"Durasi noken as ini yang membuat motor bertenaga halus di putaran bawah dan tetap isi di putaran menengah hingga atas," tegas Shetep. Kombinasi ini lah yang akhirnya membuat Aditya berdiri di podium tertinggi. (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Pelek: Takasago Excel
Ban: FDR 90/80
Knalpot: Custom
Sok belakang: Showa
CDI: BRT


REFERENSI :
www.motorplus-online.com

FOKUS TENGAH ATAS, KHARISMA KALAHKAN JUPI-Z

Pasukan Evalube AHRS GM Kolor Ijo Top Jaya boleh disebut nyeleneh ketika memutuskan basic pacuan Honda Karisma dengan spesifikasi mesin standar pabrik yang 52,4 x 57,9 mm (diameter x stroke) untuk bertarung dalam balap karapan di kelas bebek 4 tak tune-up s/d 200 cc.

Mengingat pada kategori ini begitu dominan penggunaan Yamaha Jupiter Z yang diklaim punya karakter bawaan mesin yang lebih mendukung. “Saya pikir ini tantangan buat kita. Memang butuh riset serius,“ tukas Tauvan Kurniawan, pemilik pacuan yang berkolaborasi dengan tim Kolor Ijo Nganjuk yang dipunggawai Raditya Harya Yuangga, akrab dipanggil Angga.

Catatan penting, kudapacu yang digawangi mekanik Fauzan Rozi (Conk’s Speed) dengan joki andalan Tony Chupank ini mampu mengukir best-time 7,758 detik untuk lintasan 201 meter.

“Kita lebih fokus setting untuk putaran menengah dan atas. Disini peluang besar untuk kalahkan Jupiter Z,“ tegas Fauzan Rozi yang berbasecamp di Jl. Koro Rt. 02 Rw. 04 Kelurahan Bumiayu Kec. Kedung Kandang, Malang, Jatim. Yuk kita cermati lebih jauh rahasia dapur pacunya. Camshfat sebagai part vital ketika kita berbicara kinerja motor bakar 4 langkah diplot pada durasi 277 derajat.

Lebih detailnya, klep masuk membuka 35 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 62 derajat setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedang katup buang, sedikit berbeda. Buka-tutupnya pada angka 63 dan 34 derajat.

“aya fokuskan pada RPM menengah dan atas yang istimewa,“ ujar Fauzan Rozi yang mematok kombinasi klep pada 33 dan 27,5 mm dan lift hingga 9,6 dan 9,7 mm untuk sisi in dan exnya.

Sebelumnya perlu dipahami, langkah bore-up menjadi hal mutlak. Regulasi membatasinya hingga kapasitas 200 cc. Sehubungan hal tersebut, diaplikasi piston Honda Tiger yang sudah dioversize 200 (65,5 mm).

Untuk stroke masih bawaan pabrik hingga jika diukur dengan rumusan Cylinder Volume (CV) didapat silinder sebesar 183,2 cc. Sampai disini, jelas sekali masih ada peluang untuk diperbesar mendekati nilai 200 cc seperti yang sekarang menjadi trend tuner-tuner yang menggarap Jupiter Z.

Menyangkut upgrade tenaga bawah, selain ubahan pada rasio, juga magnet dibubut hingga jauh lebih ringan dengan berat 600 gram saja. Untuk balancer pada sisi gigi primer dibuat 500 gram. “CDI nya pakai BRT I-Max yang 24 step. Titik tertinggi ada di 37 derajat pada RPM 9500, “tambah Fauzan Rozi yang merasa optimal dan safety dengan perbandingan kompresi 13,8 : 1. Kita tunggu saja kejutan ukiran time yang lebih baik | ogy

SPEK KOREKAN :
PISTON : Tiger o/s 200, KARBURATOR : Keihin PWK 33, MAIN JET : 125, PILOT JET : 55, KLEP : 33/27,5 mm, LIFT KLEP : 9,6 (In) dan 9,7 (Ex), PER-KLEP : Jepang, RASIO : 14-32 (I), 19-31 (II), 19-24 (III), 25/25 (IV), CDI : BRT (I-Max), KNALPOT : Cream Pie Jogja, FINAL GEAR : 14-37 (201 meter)


REFERENSI :
ototrend\



SUPRA 125: Noken 273, Magnet YZ125 Semburkan 24 HP

User Rating: / 32
PoorBest 
Konsistensi riset menjadi kunci utama para mekanik berbasic pacuan Honda dalam menghadapi ketatnya persaingan. Baik dalam konteks kompetisi internal (Honda Racing Championship 2011) ataupun skala Motoprix 2011 dan terlebih Indoprix 2011 yang diklaim sebagai level tertinggi balapan bebek tanah air.
Demikian pula yang dilakoni tuner Danang Wahyudi yang mengawal tim Honda Putra Rinjani Krida NHK IRC MPM yang diback-up Suharyono, akrab disapa Rio selaku owner tim.
“Saat ini kita sedang mencoba aplikasi magnet YZ 125 untuk Supra 125 yang bermain di kelas 125 cc.

Sebelumnya menggunakan magnet standar yang dibubut ulang menjadi lebih ringan. Saya prediksi akan ada kenaikan 1 HP,“ terang Danang Wahyudi yang mensupport pengapian dengan CDI BRT I-Max Super Pro, menegaskan bawah titik tertinggi dari kurve pengapian ialah 38 derajat pada RPM 9000.

Patut dipahami, kudapacu ini menghantarkan Wawan Hermawan di deretan atas klasemen sementara  HRC 2011 kelas 125 cc. Kinerja pengapian yang identik dengan SE (Special Engine) ini dipastikan menambah power. Putaran mesin menjadi lebih optimal karena bobot magnet yang lebih ringan.

“Kita pernah coba  di Mandala Krida dengan handycap yang biasa buat latihan bisa menembus 18,9 detik. Tarikan bawah lebih responsif, juga tenaga atas lebih cepat diraih dan tidak ada habisnya,“ ujar Wawan Hermawan yang berasal dari Ciamis (Jawa Barat), juga menguasai klasemen sementara HRC 2011 untuk kategori 110 cc. Hanya saja ada beberapa catatan penting yang menjadi PR ke depan.

Bahwa temperatur panas yang dihasilkan kerja pengapian YZ 125 ini, terlebih posisi magnet yang tidak terendam oli kadangkala menimbulkan problem daya tahan perangkat, macam tensioner rantai.

“Tapi ini masih asumsi. Sedang dicarikan solusi terbaik menyangkut daya tahan semua part,“ tukas Danang yang  mematok perbandingan kompresi 13,5 : 1 dan setia mengibarkan bengkel Cakra Motosport dan berbasecamp di Bantul, Jogjakarta.

Sampai disini dan seperti yang pernah ditegaskan, maka jangan salah persepsi. Bahwa pengapian itu bukan penentu. Melainkan sebagai finishing dari proses pembakaran. Camshaft tetap menjadi part vital ketika bicara perfoma mesin 4 langkah. Disini menentukan karakter power.

“Durasi ada pada 273 derajat. Buka-tutupnya klep in dan out baik sebelum TMA ataupun TMB dan sebelum TMB dan setelah TMA ada pada 34 dan 59 derajat,“ terang Danang yang mengklaim semburan kudapacu ini mencapai 24 HP saat diukur dynotest.

Lebih lanjut, untuk langkah pembesaran kapasitas silinder sendiri, diadopsi piston diameter 53,4 mm. Alhasil dengan bekal stroke 57,9 mm, didapat volume 129,6 cc yang masih dibawah limit regulasi kelas 125 cc dalam rentang 99 s/d 130 cc. Kita tunggu saja penyempurnaan dari riset pengapian yang dilakukan sehubungan prestasi yang akan diukir. ogy

SPEK KOREKAN
PISTON : Izumi (53,4 mm), KLEP : Sonic (28/23 mm), LIFT KLEP : 9,1 MM, KARBURATOR : PWK 28, MAIN JET : 115, PILOT JET : 62, RASIO : 34-14 (I), 32-18 (II), 24-18 (III) dan 26-23 (IV), PENGAPIAN : YZ 125, CDI :  BRT   I-Max Super Pro, KNALPOT : AHM, FINAL GEAR : 13-46 (Sirkuit Mandala krida, Jogjakarta). 
REFERENSI :
ototrend\


Kawasaki Edge Jogja: TEMBUS 21 HP, KANDIDAT KUAT JAWARA PEMULA

User Rating: / 12
PoorBest 
Tahun kedua (2010) kehadiran tim pabrikan Kawasaki IRC NHK Rextor Manual Tech makin menebar ancaman serius. Sanggup menerobos dominasi pabrikan Yamaha, Suzuki dan Honda yang notabene lebih dahulu menggeluti balapan.
Podium jawara beberapa kali hadir. Termasuk juga di persaingan di Motoprix 2010 region II (Jawa). Seperti yang dilakukan pemula berbakat Gupito Kresna asal Jogjakarta hingga berada di barisan terdepan klasemen sementara MP3 (125 cc).

Anyway, tangan dingin mekanik sekaligus owner tim Ibnu Sambodo menjadi unsur signifikan hingga membuat riset kudabesi Kawasaki Edge menjadi lebih singkat untuk muncul ke permukaan dengan bekal tenaga 21 HP (Horse Power).

“Sebagai efek stroke pendek dibanding yang lain, maka fokus utama bagaimana mengupgrade power di RPM bawah-menengah. Utamanya di rentang 5000 hingga 7000,“ terang Pak De, sapaan akrabnya saat dikunjungi otre di bengkelnya Manual Tech, Jl. Kaliurang Km. 8,4 No. 53 Jogjakarta.

Sampai di sini jangan salah persepsi dulu. Konteks di atas berlaku untuk handycap lintasan di beberapa daerah yang cenderung bercirikan semi high-speed. Dominan dengan tikungan sempit dan main-straight kisaran 100-200 meter saja. Ketika bicara sirkuit Sentul atau lainnya yang bermain di RPM tinggi, tentu saja konsepnya berbeda. Kawasaki Edge sendiri memeluk spesifikasi 53 mm x 50,6 mm (diameter x stroke).

“Berdasar pengakuan rider, maka akselerasi agak merepotkan saat ketemu tikungan putar-balik. Aplikasi gigi 1 terlalu liar, pakai gigi 2 kurang bertenaga,“ tutur Pak De yang pernah menuntut ilmu di Tehnik Mesin, juga Elektro di UGM Jogjakarta dan dipastikan sanggup memberikan solusi atas problem tersebut. Sekali lagi, atensi riset tertuju pada langkah mendongkrak tenaga di putaran dibawah RPM 9000.

Camshaft sebagai alat pengatur lalu-lintas gas aktif yang siap dikompresikan diplot dengan durasi 275 derajat. “Buka-tutupnya saat TMA dan TMB berada pada 35 derajat dan 60 derajat. Jadi klep dibuat membuka lebih cepat untuk menggapai output akselerasi dan menutup lebih lama agar power jalan terus,“ tambah Pak De yang beristrikan Dokter Erick Yuane dan sedang menempuh spesialis kandungan di UNS Solo. 

“Memang butuh trik juga saat menemui tikungan patah. Jika memang memungkinkan dengan gigi 2, maka RPM harus dibuat menggantung,“ timpal  Gupito Kresna yang juga adik kandung road racer senior Bima Aditya.

Noken-as tadi mengatur kinerja klep Sonic yang dimodifikasi ulang dengan ukuran yang efisien pada rumusan 26 mm dan 23,5 mm untuk valve-in dan exnya. Sedang lift atau angkatan klep pada 9,5 mm dengan support per-klep Jepang..

Bagaimana dengan kompresi ? Saat ini dibuat tidak terlalu tinggi dikarenakan masalah kesulitan mencari bahan bakar bensol yang berkualitas. “Cukup pada perbandingan 13,4 : 1. Angka ini justru sangat aman menyangkut dayatahan mesin,“ tegas Pak De yang juga terbukti mampu merenggut prestasi balapan bebek di skala Asia dalam dua tahun belakangan (Underbone 115-4 stroke) lewat joki Hadi Wijaya. | ogy

BERBAGAI PILIHAN RASIO (II & IV)
Trend atau kecenderungan dari pemikiran mekanik lain terfokus pada hitungan rasio yang sama ketika bermain di trek daerah yang beda-beda tipis. Konteks dan celah demikian yang dimanfaatkan kiliker Pak De untuk memaksimalkan kudapacu garapannya.

“Untuk lintasan yang kebanyakan hadir di kompetisi Motoprix, biasanya hadir pilihan lain pada rasio II dan IV,“ tukas Pak De yang pernah mendapat tawaran pabrikan Kawasaki Motor Indonesia (KMI) untuk bermain di level Supersports 600 balapan Asia (Asia Road Racing Championship).

Yuk kita cermati lebih lanjut ! Rasio I yang 31-14 (2,21) dan III di 26-20 (1,3) berlaku setia, sedang rasio II dan IV hadir dengan dua alternatif. Rasio II mulai 29-18 (1,61) dan 30-18 (1,66), sedang rasio IV antara 25-23 (1,08) dan 25-22 (1,13).

Anyway, angka koefisien yang ada dalam tanda kurung dipastikan menunjukkan karakter tenaga. Lebih besar berarti lebih responsif, sedang lebih kecil berarti lebih baik di momen top-speed atau putaran atas. | ogy

SPEK KOREKAN :
KARBURATOR : Mikuni 24, MAIN JET : 210, PILOT JET : 40,  KLEP : Sonic (26/23,5 mm), LIFT KLEP : 9,5 mm, CDI : Rextor (Pro Drag), KNALPOT : By Manual Tech Jogjakarta, FINAL GEAR : 13-42 (Mandala Krida, Jogjakarta).


 REFERENSI :
ototrend\


TRIMAKASIH UNTUK MOTORPLUS....
 tetap semangaaattt..
salam dari kursus mekanik NUANSA MOTOR ENGINEERING SCHOOL 
MUARA BUNGO - JAMBI

TELP. 0747 321715  HP. 085266010191


Honda CB150R Juara HRC 2015 Seri Perdana



Honda CB150R Juara HRC 2015 Seri Perdana
Meski turun di ajang Honda Racing Championship (HRC) seri perdana tahun 2015 dengan persiapan yang minim, namun Honda CB150R yang digas Sudarmono ini bisa bertengger kokoh di podium 1. Mau tahu rahasia Honda CB150R juara HRC 2015 seri perdana.
“Kita bikin mesin ini dalam waktu sehari, ngejar waktu untuk mengikuti free practice HRC di Sirkuit Brigif, Cimahi, Jawa Barat. Untungnya, untuk ngoprek mesin motor sport lebih mudah dan jauh lebih murah ketimbang bikin motor bebek,” ucap Ade Rachmat selaku Chief Mekanik Astra Motor Racing Team.
Yuk, diintip oprekan Honda CB150R juara HRC 2015 seri perdana!
Mengandalkan piston standar yang berdiameter 63,5 mm, dengan coakan klep masing-masing dibuat lebih dalam 0,5 mm, agar klep tidak mentok pada piston. Coakan ini ditambah, karena head silinder kena papas 1 mm, serta jarak mendem antara piston dan bibir blok saat Titik Mati Atas (TMA) dibikin 0,5 mm. Ketika diukur rasio kompresi mesinnya, didapat 12,9 : 1.
Pengatur buka tutup klep ini dikustom hingga durasi bermain di 289° untuk in dan ex-nya. “Hitungannya, kem in membuka di 37° BTDC (sebelum TMA) dan menutup di 72° ABDC (setelah TMB). Sementara, kem ex membuka 72° BBDC (sebelum TMB) dan menutup di 37° ATDC (setelah TMA). Tinggi angkatan untuk klep in 9,5 mm, sedangkan ex dibikin lebih rendah, yaitu 9,2 mm. Sedangkan LSA-nya, berada di 107°,” ucap Ade yang bermarkas di Jl. Bambu Apus Raya No. 100, Jakarta Timur.
Untuk per klepnya, Ade mengandalkan milik Honda CBR 400. “Per klep ini, punya panjang dan diameter yang sama dengan standar CB150R. Hanya saja, daya tekan dari per klep CBR 400 lebih keras dari standarnya CB150R,” lanjutnya.
Otak dari mesin injeksi ini, mengandalkan ECU dari Vortex yang dipadukan dengan koil standar. “Timing dibikin seaman mungkin, bahkan AFR dibikin sedikit rich, yaitu 12,1 : 1. Selain itu, pengapiannya dibikin total loss dengan menggunakan magnet kering. Timing lebih akurat, menggunakan magnet kering,” beber Ade yang senyam senyum bisa bikin Honda CB150R juara HRC 2015 seri perdana. (www.motorplus-online.com)
Data Modifikasi :
Ban depan     : FDR Sport XR 120/70-17
Ban belakang  : FDR Sport MP76 90/80-17
Sok Belakang  : Ohlins
Knalpot       : WRC




BEDAH MESIN INJEKSI HONDA BLADE 125 JUARA HRC




HONDA BLADE 125 INJEKSI. Jawara HRC 2015 Purwodadi lalu
HONDA BLADE 125 INJEKSI. Jawara HRC 2015 Purwodadi lalu
Boleh disebut kejutan prestasi yang spesial ditengah era pacuan injeksi yang notabene  belum banyak yang bertaji. Demikian hasil riset yang dilakukan Anto Fast-Tech, tuner Astra Motor Racing Team Yogyakarta, disingkat ART Yogyakarta. Sukses meraih podium jawara kelas HRC 2 di kompetisi Honda Racing Championship 2015 (HRC 2015) di Sirkuit Alun_Alun Purwodadi, Jawa Tengah.
ECU ATAUPUN AFR. Masih setia produk aRacer | SEJAK MP BANTEN. Riset injektor dipindah alias terpisah
ECU ATAUPUN AFR. Masih setia produk aRacer | SEJAK MP BANTEN. Riset injektor dipindah alias terpisah
“Pastinya kita sangat senang dan termotivasi untuk meriset lebih lanjut. Selama ini memang ART Yogyakarta pede dengan pacuan injeksi Blade 125 FI di Kejurnas Motorprix 2015 region Jawa, “ungkap Suroto, akrab disapa Pak Toto selaku manajer tim. Berikut portal ototrend.com mengajak pembaca memahami rahasia dapur pacunya. Tentunya, biar sajian berita lebih variatif. Tidak ala kadarnya, apalagi hanya 3-4 paragraf di era masyarakat yang semakin kritis saat ini.

MEKANIK. Anto Fast-Tech dan RIDER WAWAN HERMAWAN. Setelah terbaik di HRC Purwodadi, tinggal pembuktian di Motorprix Jawa
MEKANIK. Anto Fast-Tech dan RIDER WAWAN HERMAWAN. Setelah terbaik di HRC Purwodadi, tinggal pembuktian di Motorprix Jawa
Diinvestigasi lebih lanjut, ada hal signifkan yang memberikan perubahan penting hingga injeksi Blade 125 ini begitu gahar. “Selama ini injector di throttle-body. Kemudian saya pindahkan di luar dengan velocity pendek model corong. Logika saya, dengan pemindahan ini, maka  butiran bahan bakar yang bercampur dengan udara lebih baik. Velocity pendek untuk mengejar tenaga atas, “terang Anto Fast-Tech yang mengaplikasi injektor yang lebih besar milik Honda CBR 250 dan lebih pede dengan perbandingan kompresi 12,4 : 1.

“Tentunya, harus di mapping ulang. Disesuaikan dengan kebutuhan. Saya set-ulang parameter volume-rate pada ECU aRacer. Ini efektif di angka 240 ml/menit. Tentunya hal ini dilakukan dengan berbagai ujicoba, “tambah Anto Fast-Tech yang sementara ini bermain aman dengan limiter pada RPM 13.500.

Bagaimana dengan perangkat camshaft ? Pada mulanya, menggunakan noken-as berbasic Blade 110 yang mengaplikasi karbu dengan durasi tinggi hingga 278-280 derajat. Ini sebagai langkah komparasi alias perbandingan saja. Namun ternyata tidak efektif di berbagai trek daerah yang relatif pendek. Terlalu fokus di RPM atas. Disamping pula, angka limiter RPM tidak terlalu tinggi. Lebih cepat kena limiternya.

“Jadi tenaga agak digeser ke RPM tengah. Saat ini pada durasi 276 derajat, “tambah Anto Fast-Tech yang sedang menguji coba ramuan bobot magnet 350 gram dan balancer 400 gram hingga bisa mendongkrak RPM bawah terlebih saat momen start dan keluar tikungan. Kalau problem tersebut, memang sementara ini menjadi kelemahan pacuan injeksi berbagai merk dibanding sistem karburator yang lebih responsif. | ogy

SPESIFIKASI :
KLEP : BRT (28/23 mm)
LIFT KLEP : 9,2 mm
RASIO  : 14-34 (I), 18-32 (II), 21-29 (III) dan 20-22 (IV)
INTAKE : HRP
ECU & AFR : aRacer
INJEKTOR : Honda CBR 250
KNALPOT : DRC Victory
FINAL GEAR : 13-42
REFERENSI ; OTOTREND

Honda Blade 125 Fi 2015 (Yogyakarta)

Rahasia Honda Blade 125 Fi ART Jogja


Penulis : Uje
Foto : Edhot

Pacuan tim Astra Motor Racing Team Yogyakarta yang digas rider kawakan, Wawan Heramawan, akhirnya berhasil meraih kemenangan perdananya pada seri VII Kejurnas Motorprix Region 2 di Sirkuit Gery Mang, Subang, Jawa Barat (2/8). Ini rahasia Honda Blade 125 Fi ART Jogja
“Sejak seri pertama kami selalu fokus ke upgrade sektor daya tahan mesin. Dan sejak perhelatan HRC Cup Purwodadi, motor memang sudah kencang. Jadi, kami lebih pede untuk menghadapi sisa musim MotorPrix Region 2,” ucap sang kepala mekanik, Muthyanto atau yang biasa kerap disapa Anto Fasttech.
SILINDER
Selain melakukan porting-polish, rahasia Honda Blade 125 Fi ART Jogja yang digarap Anto juga menggusur piston standar dengan piston keluaran Kawahara berdiameter 53,4 mm. Sementara, jarak mendem piston saat TMA dari bibir blok 0,4 mm dan memiliki rasio kompresi mesin 12,2 : 1 untuk Pertamax Plus.
ECU & THROTTLE BODY
Rahasia Honda Blade 125 Fi ART Jogja menggunakan ECU pakai keluaran ARacer yang dimapping ulang sesuai karakter sirkuit Gery Mang. “Untuk seri di Subang ini, saya seting lebih kering di RPM tengah-atasnya. Yaitu di kisaran angka 12,5 : 1. Injektornya, saya pakai punya Honda CBR 250,” tambah Anto.
Lalu, Throttle Body (TB) comot punya Honda CB150R yang memiliki dimater venturi 28 mm. “Pakai TB ini lebih cocok ketimbang pakai yang memiliki diameter venturi lebih besar,” terang Anto.
HEAD
Untuk per klepnya, Anto kustom dari punya Honda Sonic yang kini berukuran 28 mm (in) & 23 (ex). Sementara, pengatur buka-tutup klepnya alias kem juga dikustom ulang dengan durasi 272° baik untuk in maupun ex. Rinciannya, membuka di 35° sebelum TMA dan menutup 57° setelah TMB untuk in dan ex-nya membuka 57° sebelum TMB dan menutup 35° setelah TMA. (www.motorplus-online.com)
Data Modifikasi :
Ban Depan Belakang: FDR MP 57 90/80 - 17
Sok belakang  : Kayaba
Knalpot   : DRC
ECU: ARacer


Yamaha Jupiter-Z 2013 (Malaysia)

Rumus Korek Yamaha Jupiter-Z Taklukan Sirkuit Buriram Thailand



rumus korek Yamaha Jupiter-Z taklukan sirkuit Buriram Thailand
Sempat kedodoran pada race pertama, Yamaha Jupiter-Z besutan Anggi Permana dari Faito Factory Racing, bisa tampil gemilang di race kedua. Seakan-akan ingin membalaskan dendamnya pada race pertama. Itu terjadi di kelas Underbone 4-tak 130 cc dalam ajang final Asia Road Racing Championship Round 6 di sirkuit Internasional Chang, Buriram, Thailand, baru-baru lalu. Anggi sukses dengan rumus korek Yamaha Jupiter-Z taklukan sirkuit Buriram Thailand.
“Di race kedua, coba ubah strategi. Duet rider Faito Factory Racing ini bermain aman di barisan belakang. Setelah balapan tersisa dua lap terakhir, baru mereka merengsek ke barisan depan,” ucap Miftah Solih, Senior R&D Engineer Faito Factory Racing yang berkantor di Pusat Dagangan Phileo Damansara 2, Petailing Jaya, Selangor, Malaysia.
Nah, mau tau kan rumus korek Yamaha Jupiter-Z taklukan sirkuit Buriram Thailand ? Monggo disimak, bro!
SILINDER.
Rumus korek Yamaha Jupiter-Z taklukan sirkuit Buriram Thailand dengan kapasitas silinder dibikin mendekati batasan akhir, yakni jadi 129,4 cc. Itu setelah bore up pakai piston berdiameter 55,25 mm dari Faito yang sudah jenis forging. Dengan mengatur jarak mendem pinggir piston 0,6 mm dari bibir boring saat berada pada TMA, rasio kompresi terhitung jadi 12,7 : 1.
HEAD SILINDER.
Selanjutnya rumus korek Yamaha Jupiter-Z taklukan sirkuit Buriram Thailand kedua katup diganti lebih gambot. Klep in pakai 29 mm dan ex 24 mm. Pengatur buka-tutup klepnya, diset berdurasi kembar, yaitu 279° untuk in dan ex. “Hitungannya, klep in membuka 38° BTDC (sebelum TMA) dan menutup di 61° ABDC (setelah TMB). Sementara, kem ex membuka 61° BBDC (sebelum TMB) dan menutup di 38° ATDC (setelah TMA). Tinggi angkatan klep in dibentang 9,1 mm dan ex 9,2 mm. Sedangkan LSA-nya berada di 101,5°,” beber Ruhan, selaku mekanik Faito Factory Racing yang juga keponakan dari Hawadis.
KARBURATOR & PENGAPIAN. Untuk part pengabut bahan bakarnya, mengandalkan karburator dari UMA Racing berventuri 28 mm. Dengan ukuran pilot jet 38 dan main jet 118, cocok untuk sirkuit Chang yang saat ibni suhu udaranya tembus 38° Celcius.
Sedang di sektor pengapian, mengaplikasi total loss dengan balancer pakai bikinan Faito. “Balancernya masih prototype. Materialnya dari besi yang punya berat 300 gram,” bisik Miftah Solih. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan     : Dunlop 90/80-17
Ban belakang  : Dunlop 100/70-17
Sok belakang  : Ohlins
Knalpot       : AHM

YAMAHA JUPITER Z - PONOROGO : KOREKAN SPESIAL TOMMY SALIM


YAMAHA JUPITER Z - PONOROGO : KOREKAN SPESIAL TOMMY SALIM
YAMAHA JUPITER Z - PONOROGO
FORMASI paling gress tim Putra Anugrah racing Division, tentu saja siap menjadi ancaman tim road race Jatim. Terkait dengan kehadiran rider potensial Tommy Salim yang bergabung di tim ini. Fakta demikian ini tersaji pada hajatan Djarum Kratingdaeng Road Race Openchampionship, Bojonegoro silam. Tommy Salim sukses menjadi jawara di kelas MP1 dengan gacoan lama Jupiter Z.
KOREKAN SPESIAL TOMMY SALIM
KOREKAN SPESIAL TOMMY SALIM
Lalu apa rahasia mendasar korekan Jupiter Z pacuan Tommy salim yang diarsiteki oleh Heru Kate atau yang biasa disapa Pak de asal Jogja ? Angka durasi noken sengaja menganut durasi 274 derajat (in) dan 272 derajat (ex), yang disuport pemakaian katup 29 mm (in) dan 24 mm (ex). Durasi demikian memang rendah cenderung ke medium, dasarnya bobot Tommy yang lebih berat di 64 Kg.

Konsekuensi demikian ini tentu ditujukan untuk menyajikan angka over lap lebih singkat, meskipun lift katup hingga 9,3 mm. Sehingga, ketika dibandingkan dengan perbandingan kompresi medium di angka 12,7 : 1, inputnya lebih didapat pada penyempurnaan nilai torsi. Sebagai suportnya, suplai gas segar dari Keihin PWK 28 mm yang diaplikasi, diseting pekat di 132 untuk main jet dan 35 pilot jet.

Cuman saat berlaga di kondisi hujan, justru dibuat lebih kering. "Lonjakan rpm mesin agar tetap singkat, mengingat debit oksigen lebih tipis, "cakap Pak de yang menurunkan main jet jadi 122 dan pilot jet 30.

Sedang transfer power mesin, dilayani gigi rasio rapat, dengan perbandingan gigi 1(36-13), 2(29-16) dan gigi 4(26- 23). Bagi Tommy, perbandingan gigi rasio ini masih belum final dalam adaptasi, terkait dengan efek peak power yang dihasilkan. Kadang masih over power, jadi kompensasinya lebih ke persiapan menyiasati ke pemakaian gigi 3 atau 4. "Seperti halnya saat akan menusuk dan keluar tikungan, butuh pakai rolling atau manteng speed, "jelas Tommy.

Sebagai finshingnya, instalasi pengapian menganut sistem DC dan diprogram CDI Rextor, serta disuport koil YZ 125. Untuk kurva pengapian masih terus berkembang dan belum paten. "Sebab, Tommy terus berusaha mencari kurva pengapian yang lebih sempurna, terkait dengan performa speed dan durability performa mesin, "urai Heru . | pid

SPESIFIKASI
KARBU : Mikuni 28 mm
CDI : Rextor
KOIL : YZ 125
KATUP : 29 mm (in) & 24 mm (ex)
KARBU : PWK 28 mm
KNALPOT : PARD
SUSPENSI : KYB



Honda CB 150R 2015 (Jakarta)

Cukup Setting Gir Honda CB 150R HRC Wahyu Widodo Jadi Raja Sirkuit Kemayoran


Penulis : Uje
Foto : Teguh

Honda CB 150R HRC Wahyu Widodo
Racer sekawakan Wahyu Widodo, bisa sabet kampiun meski spek motor masih banyak yang pakai komponen standar. Itu terjadi dalam seri pamungkas Honda Racing Championship yang dihelat di sirkuit JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (29/11) lalu. Buktinya, meski setingan motor tidak banyak berubah sejak seri sebelumnya di Malang, Jawa Timur, Honda CB 150R HRC Wahyu Widodo tetap bisa melesat terdepan.
“Dari seri Malang lalu, kami rasa setingan motor sudah pas, tak perlu diubah lagi. Bahkan rasio transmisi masih standar pabrik. Kami cuma naikin satu mata di final gear. Biar lari motor bisa enteng di Kemayoran,” ucap Suhartanto Alias Kupret, mekanik kondang yang garap Honda CB 150R HRC Wahyu Widodo Wahyu dari tim Honda Kawahara Racing IRC-KYT.
SILINDER & KOMPRESI
Durabilty mesin selalu jadi konsen mekanik yang garap Honda CB 150R HRC Wahyu Widodo. Makanya di bagian ini, Kupret menggusur piston standar dengan piston Kawahara ukuran 63,5 mm yang sudah mengusung teknologi forging dan memiliki dome tinggi. Rasio kompresinya setelah pakai piston ini dan penyesuaian pada kubah head, ketemu di angka 12,4: 1 untuk minum Pertamax Plus.
HEAD
Buat mengail asupan gas deras ke ruang bakar, klep diganti pakai keluaran Kawahara juga, dengan diameter 26 mm untuk bagian in dan 22 mm untuk ex. Kemudian pengatur buka-tutup klep dicustom ulang durasinya jadi 253°, baik in dan ex. Rinciannya, klep in membuka di 18° sebelum TMA dan menutup 55° setelah TMB. Sementara ex-nya membuka 48° sebelum TMB dan menutup 25° setelah TMA. Sedang lift klep (in dan ex) dibentang sejauh 9 mm.
ECU & DOBEL INJEKTOR
ECU sebagai otak sistem injeksi dan pengapian motor, dipercayakan pada merek aRacer RC1. Debit fuel dikoreksi sampai didapat AFR di angka 12 : 1. Sebelumnya, throttle body standar direamer venturinya dari 30 mm jadi 32 mm agar debit udara yang masuk jadi lebih banyak.
Lalu untuk mengakail agar asupan bensin gak tekor di putaran tinggi, Kupret mengaplikasi double injektor di TB. Kedua inejektor standar CB150R itu dipasang secara paralel. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban depan: IRC Fasti 90/80-17
Ban belakang: IRC Fasti 110/70 - 17
Sok depan: Showa
Sok belakang: Kawahara


Inilah Suzuki Shooter Juara Umum Denas Road Race

Aksi Ega Fajar Yulian diatas Suzuki Shooter di sirkuit permanen Kandih
BalapMotor.Net – Jarang melihat Suzuki Shooter mengikuti ajang balap . Apalagi Suzuki Shooter  bisa mematahkan dominasi motor lainya seperti Honda blade serta Yamaha Jupiter. Nah digelaran final Access Speed FDR KYT Denas Road Race di Sawah Lunto (17/1) kuda besi Suzuki Shooter yang ditunggani Ega Fajar Yulian ternyata mampu seperti itu.
Ega Fajar yang menunggangi Suzuki Shooter dari tim Bapoeka 32 Pancar 93 Padang ini mampu mendominasi balapan kemarin. Selain itu Ega juga mampu menjadi juara umum di kejuaraan ini. Untuk motor sendiri, nih motor ternyata merupakan motor yang dipacu Ega di beberapa seri Motoprix Sumatera 2015 lalu. Nih motor merupakan hasil karya dari Acuan mekanik senior asal Medan.
’’Memang sih secara ubahan tidak ada yang istimewa dari motor ini Cuma di prepare aja seperti biasa spesifikasi nya juga masih seperti tahun lalu Cuma yang di ubah dari Sok belakang dari Daytona ganti ke Kayaba ungu’’ungkap Ega Fajar saat di temui di Markas besar Bapoeka 32 Padang.

Meski demiian Ega mampu merepotkan para rivalnya yang juga termasuk para pembalap kondang Sumatera seperti Renggi Lukmana,Aditya anugerah,Ahmad Villi NST dan hanya Ega satu-satu nya pembalap yang memakai Suzuki. Motor ini sendiri terbukti tangguh dan tak terkalah kan sejak lepas start namun di lap-lap terakhir Aditya Anugerah yang tahun ini bakal balap di Region 2 dan ajang Asia ini sempat memberikan perlawan terhadap Ega Fajar, namun Ega mampu menyalip kembali hingga Ega mampu Juara di kelas Utama (MP1-MP2)  untuk lebih jelas nya yuk intip spesifikasi motor ini.
Diameter klep dipakai kepunyaan Honda Sonic yang berukuran 28/24 mm (in/ex) dengan diameter batang klep 5 mm. Sedangkan untuk durasi kem-nya, dibikin 275° untuk in dan ex. Hitungannya, kem in membuka di 32° BTDC (sebelum TMA) dan menutup di 63° ABDC (setelah TMB). Sedang ex-nya membuka 62° BBDC (sebelum TMB) dan menutup di 35° ATDC (setelah TMA).
Pengapiannya menggunakan CDI Racing keluaran Produk BRT 24 step . CDI ini terasa pas dikombinasikan dengan pemantik api alias koil kepunyaan Yamaha YZ 125. Dan supaya lebih gesit, bobot magnet dibuang. Sekarang menjadi 600 gram, Terakhit dengan gigi transmisi motor Suzuki Shooter yang Juara di Sirkuit Kandih Sawahlunto trek yang tikungan ya berkarakter highspeed dan parabolic,. Hitungannya, gigi I (16/41), gigi II (18/30), gigi III (26/31), gigi IV (29/28). [ a2m ]
Data Modifikasi :
Karbulator      : Keihin PWK Sudco 28
Pelak              : BRT
Ban depan      : FDR MP76 90/80-17
Ban belakang  : FDR MP76 90/80-17
Sok belakang  : Kayaba ungu
Knalpot   : AHM




Untuk mempelajari lebih lanjut, ayo kita gabung dan mengikuti PELATIHAN MEKANIK
Di Pusat Pelatihan Mekanik
KURSUS MEKANIK
NUANSA MOTOR ENGINEERING SCHOOL
MUARA BUNGO – JAMBI
Telp. 0747 321715 – Hp. 0852 6601 0191

Untuk modifikasi / korek mesin balap dapat langsung ke
BENGKEL
 NUANSA MOTOR
MUARA BUNGO – JAMBI
HP. 085266010191


Tagged
Written by nuansa motor

Nuansa motor adalah suatu usaha yang bergerak dalam bidang otomotif yaitu perbengkelan, perdagangan dan Pelatihan Mekanik.

9 comments:

  1. Kalau bisa
    motor tua yamaha
    enak juga sepertinya kalau dioprek.postingnya bgus-bagus banget nih gan,,request modif motor tua yamaha ya gan

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. gan bantu saya modif mesin motor revo 2005 buat di jadikan motor croos dong..

    ReplyDelete
  4. Gan kl kopling blade gnti pny karisma,tp bak kopling msh stndart & g dikopling tangan bs g gan???

    ReplyDelete
  5. Kalau sudah bisa membuat mesin sendiri bisa dijadikan bisnis jual mesin ya gan? :D Terimakasih infonya gan :D

    ReplyDelete
  6. Selamat malam BOS..
    Ya pasti pada sehat-sehat semuakan, dan dilindungi oleh maha kuasa. Amin

    Lansung aja ya bos.
    Gini ane mau nanya, lemer karburator jupiter z ganti skep gl 100.
    Berapa biayanya BOS.

    Terimah kasih
    Tolong ya BOS informasinya.

    ReplyDelete
  7. Diameter seher 53,5 langkah 57 berarti pen strok naik berapa mili

    ReplyDelete
  8. Gmn cara mesin satria 2 tak saya biar tambah mlesat

    ReplyDelete